May 07 2008

Buncis

Published by mlandhing at 10:17 am under Ragam Bahan

Buncis atau Phaseolus vulgaris L. adalah jenis polong-polongan dari famili Fabaceae. Konon asalnya dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Sekitar tahun 1500-an tanaman ini mulai dikenal di Eropa. Dan sejak tahun 1700an ditanam di Afrika, India, dan Pilipina.

Kacang buncis memiliki akar tunjang dan tumbuh menjalar sehinga perlu para-para saat membudidayakannya. Tapi sepertinya ada juga tipe yang tumbuh tegak.

Buncis merupakan sejenis sayur kacang yang berbuah dan mengandung berbagai khasiat yang tidak terdapat pada tumbuhan sekeluarga dengannya.

Sayur yang kaya dengan protein dan vitamin ini membantu menurunkan kolesterol, mencegah kanker, menstabilkan tekanan darah serta mengontrol insulin dan gula darah. Jadi yang punya penyakit diabetes dan darah tinggi silakan banyak-banyak mengkonsumsi buncis ini.

Bukan hanya itu, kandungan serat dan enzim yang terdapat pada buncis konon juga membantu mengatur fungsi pencernaan sehingga mencegah ambeien, dan menurunkan berat badan. Buat yang diet dan ingin menurunkan berat badan, jadikan saja buncis ini sebagai camilan di meja. Blansir saja sebentar, sehingga daripada iseng ngemil makanan lain, pilih buncis saja.

Kandungan gizi buncis dalam 100 gram berat, antara lain: protein 2.4 gr, lemak 0.2 gr, karbohidrat 7.7 gr, kalsium 6.5 mg, dan zat besi 1.1 mg.

Kalau dulu anak-anak malas makan buncis karena teksturnya berserat, apalagi kalau panennya terlalu tua sedikit. Tapi sepertinya kultivar yang sekarang banyak dibudidayakan adalah jenis buncis yang lebih renyah.

Walaupun tidak menghasilkan jumlah protein dan kalori setinggi biji buncis kering, buncis sebagai sayuran merupakan sumber protein, vitamin, dan mineral yang penting. Selain dikonsumsi dalam bentuk polong yang dimasak, daunnya juga enak untuk lalapan dan dimasak sebagai sayur, tentu pilih yang muda ya, jadi ambil pucuk-pucuk daun mudanya itu.

Baby Buncis
Kalau diperhatikan di pasaran saat ini banyak ditawarkan jenis buncis berukuran mini, tak sebesar ukuran buncis biasa. Bentuk dan rupanya tidak berbeda dengan buncis biasa. Hanya saja, ukurannya lebih kecil karena dipetik saat masih sangat muda. Jadi sebenarnya buncis mini sama dengan buncis biasa. Biasanya yang dipanen muda begini adalah dari jenis buncis tipe tegak.

Walau dipanen muda, rasa buncis mini justru enak: lebih renyah dan manis. Cocok untuk lalap atau teman steak.

Pemakaian buncis di dapur mlandhing antara lain: baby buncis siram daging, asem-asem daging, dan oseng taoge buncis.

4 Responses to “Buncis”

  1. wi3ndon 03 Jul 2008 at 9:33 am

    hiks..aku nda duyan buncis…aneeh rasane..

  2. mlandhingon 03 Jul 2008 at 9:57 pm

    belajar suka deh non… coba kau campur dulu dengan bahan lain, sampai kau terbiasa… baru deh masak yg mayoritas bahannya buncis… gimana?

  3. wi3ndon 04 Jul 2008 at 4:45 pm

    uda nyobain tapi teuteup nda suka rasane kok aneeh:) menurut lidahku..hihi.aku mang nda terlalu suka sayur nding,suka masak sajah yang jadi korban ya ibu bapak dan kakak2 heheh..

    aku link ya blogna thx..

  4. mlandhingon 05 Jul 2008 at 7:14 am

    wah masih mending tuh… nggak suka sayur, tapi tetap mau masak buat yang lain… pasalnya kan sering tuh, kita gak suka sesuatu, trus lupa bahwa yang lain memerlukan itu.

    konon, ortu gak suka sayur, anak juga jadi gak suka… apa iya ‘tidak suka’ itu menurun?

    menurutku kok enggak… ortunya pasti sekedar ‘lupa’ memperkenalkan sayur kepada anak… moga-moga kita enggak gituh… oke?

    soal link, silakan… silakan… ini aku juga sedang menyiapkan PAGE BLOGROLL, biar blog teman-teman yang sudah mampir kesini bisa tercantum juga… sabar ya…

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply