Archive for the 'Artikel & Peristiwa' Category

Aug 21 2008

Ketahanan Pangan & Solusi Lokal

Published by mlandhing under Artikel & Peristiwa

Dunia saat ini sedang dilanda krisis pangan. Badan Pangan Dunia (FAO) pada Maret 2008 mengidentifikasi krisis pangan semakin meluas. Saat ini tercatat 36 negara langka pangan. Kelangkaan ini bahkan telah menyulut gejolak sosial, seperti di Meksiko, Maroko, Seegal, Uzbekistan, Etiopia, Pantai Gading, Guinea, Mauritania, Yaman, Filipina, dan Korea Utara.

Indonesia juga mengalami krisis pangan. Meski krisis pangan kita tak separah negara-negara tersebut, bukan berarti kita boleh berlega hati. Lihat saja, selama 2006-2007 media massa sering melaporkan kondisi rawan pangan dan gizi buruk di beberapa daerah. Ketergantungan kita pada pola makan beras dan terigu juga semakin tinggi. Beberapa waktu lalu kita sempat mengikuti pro kontra impor beras. Belum lagi impor gandum atau terigu kita yang dari tahun ke tahun semakin tinggi.

Lantas apa yang terjadi bila ketersediaan dua bahan pangan ini - beras dan terigu - tak memenuhi kebutuhan nasional? Apa kita juga akan membiarkan negara kita chaos sebagaimana negara-negara yang sedang terlanda krisis pangan di atas? Semua permasalahan itu membutuhkan jawaban segera.

Ketersediaan pangan mempengaruhi hayat hidup orang banyak. Kita harus segera menemukan jalan keluar yang mampu menjawab ketergantungan kita pada bahan pangan tertentu, khususnya pangan impor, mengingat sewaktu-waktu negara pengekspornya bisa menghentikan pasokan. Belum lagi jika harga terus melambung dilihat dari kecenderungan pasar dunia saat ini. Akankah runtuh ketahanan pangan kita?

Ketersediaan Pangan & Solusi Lokal
Berbicara ketahanan pangan tak terlepas dari berbagai aspek: ketersediaan, distribusi, konsumsi dan keamanan pangan tingkat rumah tangga. Kepala Sub. Bagian Humas Badan Ketahanan Pangan - Departemen Pertanian, Ir Iping Zainal Arifin, mengatakan ketersediaan energi kita berlebih, yaitu 2966 kkal/kap/hari, sedangkan konsumsinya 2200 kkal/kap/hari. Demikian juga dengan ketersediaan protein 75,71 gr/kap/hari sementara konsumsinya 56,6 gr/kap/hari.

Lantas kenapa bisa ada rawan pangan di beberapa daerah? Persoalannya adalah image ataupun citra saja: bahwa pangan hanya disimbolkan dengan beras semata. Semua orang seperti didorong makan nasi alias beras. Padahal masih banyak sumber pangan lain yang dapat kita manfaatkan untuk mengganti ataupun melengkapi konsumsi beras ini. Ada singkong, ubi jalar, sagu, jagung, suweg, gembili, kentang, ganyong, dan masih banyak bahan alternatif lainnya yang nilai gizinya tidak kalah, bahkan memiliki kelebihan dibandingkan beras.

Lantas berkaitan dengan terigu. Tolong dicatat, negara kita bukan negara penghasil terigu, tapi konsumsi terigu kita tahun 2007 saja telah mencapai 4,5 juta ton! Bisa dibayangkan berapa devisa tersedot untuk kebutuhan impor pangan ini? Andaikata kita bisa mengalihkan sebagian kebutuhan terigu ini ke produk tepung hasil olahan umbi-umbian kita, alangkah mulianya. Kita bisa mendorong daerah penghasil umbi untuk semakin gencar berproduksi. Petani pangan alternatif bisa hidup dan lebih sejahtera karena hasil umbi-umbiannya kita konsumsi.

Diversifikasi pangan saat ini adalah kunci keberhasilan kita dalam mempertahankan ketahanan pangan. Mungkin tak perlu langsung berganti secara total dalam pola konsumsi kita. Berikan pemahaman kepada anak cucu kita bahwa Indonesia ini kaya dengan bahan baku pangan. Bila perlu campur 3 bagian beras dengan 1 bagian jagung atau singkong. Rasanya justru jadi luarbiasa. Eksotis. Nikmat.

Negara kita subur, potensi lokal kita dalam menghasilkan bahan pangan dengan ragam alternatif sangatlah tinggi. Jadikan potensi ini untuk menjaga ketahanan pangan kita sendiri. Mari, ragamkan konsumsi pangan kita. Jangan terpaku pada satu jenis bahan pangan saja.

8 responses so far