Archive for the 'Sayur-Sup-Salad' Category

Oct 14 2008

Review Buku: 80 Warisan Kuliner Nusantara

Published by mlandhing under Inspirasi, Sayur-Sup-Salad

80 warisan Kuliner NusantaraSeru…!

Itu adalah kesan pertama ketika Mlandhing ’scanning’ buku berjudul “80 Warisan Kuliner Nusantara” ini.

Tampilannya oke: Hardcover padanan warna hijau tosca dan sentuhan orange yang menarik, dengan image cover berupa foto Soto Tangkar yang menggugah selera. Siapapun yang melihat pasti menengok buku ini.

Setelah membukanya, mencermati isinya, Mlandhing harus angkat topi. Rupanya tampilan buku yang cukup lux diikuti dengan isi yang padat. Dari judulnya saja sudah bisa ditebak bila buku ini menyajikan 80 resep warisan nusantara yang masih eksis saat ini. Resep-resep terbagi dalam 8 golongan hidangan: sate, soto, nasi, lontong/ketupat, mi, sop/hidangan berkuah, ayam/bebek/ikan, dan lain-lain.

Di bagian “Sate” selain Sate Madura dan Sate Kambing yang sudah banyak kita kenal, antara lain terdapat pula resep Sate Maranggi, Sate Bandeng, dan Sate Padang.

Di golongan “Soto-sotoan” ada Soto Tangkar, Soto Bandung, Soto Bangkong, Soto Udang, dan lima soto dari daerah nusantara yang lain.

Di bagian “Nasi” banyak yang bikin ngiler tuh. Lihat saja, ada Nasi Tutug Oncom, Nasi Gandul, Nasi Ulam, dan sejumlah nasi-nasian yang lain. Gatal rasanya pengen nyobain masak semua deh.

Urusan “Sop/Hidangan Berkuah” pasti langsung menggugah selera: ada Thengkleng yang selalu bikin penasaran, ada Empal Gentong khas Cirebon, dan Bebalung Sapi khas Lombok yang heboh dengan iga-iga sapi dan buntutnya dalam bumbu khas yang segar.

Sejarah, Cerita, dan Rekomendasi Tempat Makan
Setiap resep yang disajikan memiliki cerita dan sejarahnya sendiri, termasuk informasi daerah asal hidangan, kenapa namanya aneh-aneh, dll. Maklum, lihat saja. Ada “Nasi Jemblung Lidah”. Jemblung dalam bahasa Jawa artinya lubang di tengah. Lantas ada juga “Nasi Gandul” yang maksudnya adalah ‘nasi menggantung’ karena si nasi ini memang tidak menyentuh piring langsung, melainkan selalu ‘digantung’ alias dialasi dengan daun pisang. Info-info ringan semacam ini tersaji dalam buku dan menambah pemahaman kita.

Serunya, di setiap resep hidangan, terdapat box yang memuat rekomendasi tempat makan yang menyajikan hidangan terkait. Asik kan? Dengan begitu pembaca tak perlu bingung hunting lagi kalau ingin mencicipinya. Bisa langsung meluncur deh ke resto atau warung makan yang direkomendasikan. Sikaaatt… hehehe, kayak apa aja ya… Tapi memang kok. Tahu sendiri lah. Biasanya kalau kita mendapatkan rekomendasi makanan enak, pasti langsung ngiler dan penasaran.

Jangan terlalu berharap rekomendasi tempat makan ini super lengkap. Rekomendasi baru mengcover daerah Jakarta, Bandung-Jawa Barat, Jawa Tengah, Surabaya-Jawa Timur, dan sedikit area lain. Cuma, lumayan lah, ada gambaran dimana kita bisa memperoleh hidangan yang dimaksud di tempat-tempat yang disebutkan itu.

Sebagai contoh, untuk teman-teman Mlandhing yang di Jakarta, kalau mau mencicipi Sate Sapi, silakan datang ke Warung Soto Tangkar & Sate Sapi, di Jalan Tanah tinggi 3 No 25 Tanah Abang, Jakarta Pusat. Sedangkan kalau ingin makan Gabus Pucung, alias ikan gabus masak keluak (Pucung itu dalam bahasa Betawi berarti keluak), bisa memperolehnya di Gabus Pucung RM H. Nasun, di Jl Moh Kafi II No 21, dekat Setu Babakan, Srengseng Sawah sana. Wis, pokoknya banyak lah.

Rasanya buku terbitan PT Media Boga Utama ini layak untuk dikoleksi. Harga Rp 50.000 tak mahal untuk sekian banyak resep dan informasi yang menyertainya.

80 Tahun Menjaga Kualitas
Buku ini sepertinya memang dicetak dalam rangka ulang tahun Kecap Bango yang saat ini menginjak usia 80 tahun.

Untuk teman-teman Mlandhing yang belum tahu sejarah Kecap Bango, bisa dicatat bahwa kecap ini pertama diproduksi oleh Tjoa Pit (Boen). Ia memulai usahanya di garasi kecil rumahnya di kawasan Beteng, Tangerang. Karena rasanya enak, biasalah, promosi dari mulut ke mulut terus berlangsung dan usaha ini semakin berkembang. Saat krisis ekonomi tahun 90an berlangsung usaha ini ikut jatuh bangun. Tapi berkat kerja keras dan konsistensi menjaga rasa dan kualitas, Kecap Bango bisa bertahan dan bahkan berkembang.

Perkembangannya semakin pesat kala tahun 2001, Unilever meminang Kecap Bango untuk menjadi salah satu andalan produknya. Kini, kecap dengan nama dan logo Bango ini telah melanglang hingga ke manca negara, bahkan lintas benua.

Contoh salah satu resep yang terdapat di buku “80 Warisan Kuliner Nusantara”:

NASI JEMBLUNG LIDAH

BAHAN:
200 gr lidah sapi
200 gr daging sapi, dipotong-potong
4 sdm minyak sayur
4 sdm saus kenari (saus raja rasa)
6 butir cengkeh
2 sdm Kecap Manis Bango
2 blok kaldu sapi
1 sdt garam
1 sdt merica bubuk
1.200 ml air

BUMBU Dihaluskan:
10 siung bawang merah
2 siung bawang putih
50 gr gula merah, disisir halus
4 bh tomat, dipotong-potong

BAHAN PELENGKAP:
100 gr kerupuk kulit
lalapan
sambal terasi

CARA MEMBUAT:

  • Rebus lidah sapi dalam 1.000 ml air sepuluh menit. Keluarkan lidah dan kuliti. Rebus lagi sampai empuk, potong-potong dan buang airnya.
  • Campur lidah sapi, daging sapi, bumbu halus, minyak sayur, saus kenari, cengkeh, Kecap Manis Bango, kaldu sapi, garam, dam merica bubuk. Aduk rata. Masak sampai keluar air.
  • Tuang air secara bertahap, masak sampai empuk dan matang.
  • Sajikan masakan ini dengan nasi dan pelengkapnya.
  • untuk 4 porsi

    4 responses so far

    Oct 13 2008

    Menik: Glewo

    Published by mlandhing under Sayur-Sup-Salad

    MenikIni resep kuno/langka berikutnya. Namanya GLEWO. Kiriman dari Menik.

    Glewo ini merupakan masakan khas Semarang, mirip sambal goreng, dengan tambahan bumbu khas: kencur.

    Rasanya nikmat. Mau dimakan dengan gablog juga ok. Kalau mau, siapkan kuluban sayur: bayam, kacang panjang, dan taoge juga oke. Siramkan saja Glewo ke atas sayurannya. Hidangkan dengan nasi hangat… wuaahhh, TOP BGT deh!

    BAHAN:
    500 gr daging sapi koyoran
    4 lembar daun salam
    2 iris lengkuas
    5 lembar daun jeruk perut
    500 ml santan
    1 sdt gula jawa
    3 sdm minyak goreng

    BUMBU dihaluskan:
    100 gr cabai merah
    10 siung bawang merah
    8 siung bawang putih
    3 cm kencur
    1 sdt garam

    Cara Membuat :

  • Iris dadu daging sapi koyoran. Sisihkan.
  • Tumis bumbu halus hingga harum, masukkan daun salam, lengkuas, daun jeruk purut dan gula jawa. Aduk-aduk.
  • Masukkan daging sapi koyoran, aduk-aduk hingga berubah warna. Ungkep sebentar.
  • Tuangkan santan, aduk-aduk sampai kuahnya mengental (nyemek-nyemek). Sajikan.
  • TIPS & TRIK:

  • Siapkan bayam, taoge dan kacang panjang untuk kuluban ya.
  • No responses yet

    Sep 23 2008

    Sayur Asem Betawi

    Published by mlandhing under Sayur-Sup-Salad

    Sayur Asem Betawi atau kadang disebut juga Sayur Asem Jakarta sangat khas rasanya. Penggunaan kemiri pada bumbu berakibat pada rasa gurih, sayangnya kuah jadi tidak bening. Tapi rasanya oke. Cocok untuk teman makan ikan goreng atau empal garing.

    BAHAN:
    100 gr kacang tanah kupas
    5 lbr kacang panjang, potong serasi
    1/2 bh labu siam, potong dadu
    1 genggam melinjo utuh
    1 genggan daun melinjo
    2 bh jagung manis, potong serasi
    1,5 lt kaldu daging
    3 lbr daun salam
    3 bh asam mentah, memarkan
    2 sdm minyak goreng

    BUMBU dihaluskan:
    5 siung bawang merah
    3 siung bawang putih
    5 bh kemiri
    1 sdt garam
    5 bh cabai merah
    bumbu penyedap bila suka

    CARA MEMBUAT:

  • Tumis bumbu halus hingga harum. Sisihkan.
  • Didihkan kaldu daging. Masukkan kacang tanah kupas, masak hingga air terisa 1 lt.
  • Masukkan tumisan bumbu halus, jagung dan asam mentah. Aduk-aduk hingga jagung matang.
  • Masukkan semua sisa sayur, biarkan kaldu mendidih sekali lagi. Matikan api. Sajikan.
  • TIPS & TRIK:

  • Kadang ada yang suka menambahkan terasi dalam bumbu halus. Rasanya oke juga. Jangan lupa membakar terasinya terlebih dahulu ya.
  • No responses yet

    « Prev - Next »